Derbi Manchester: Insiden Susu 2017, Kini Maresca Tantang Carrick

Menjelang Derbi Manchester terbaru, kita diingatkan kembali pada insiden kontroversial ‘Perang Susu’ tahun 2017 yang melibatkan Pep Guardiola dan Jose Mourinho, sebuah babak dalam rivalitas abadi yang kini dilanjutkan oleh Enzo Maresca dan Michael Carrick.

derbi-manchester-insiden-susu-2017-maresca-carrick

reddevilspulse – Kekacauan, intrik, dan gairah yang membara adalah bumbu wajib dalam setiap pertemuan antara Manchester United dan Manchester City. Setiap Derbi Manchester selalu menjanjikan drama tak terduga, dan jelang laga yang akan berlangsung Minggu sore ini, sorotan kembali tertuju pada sejarah rivalitas sengit ini. Dari insiden memalukan yang dijuluki ‘Perang Susu’ pada tahun 2017, kini panggung pertarungan taktik telah berpindah tangan ke era Enzo Maresca di kubu City dan Michael Carrick yang memimpin Manchester United.

Derbi Manchester Insiden Susu

Mengenang ‘Perang Susu’ yang Memanaskan Old Trafford pada 2017

Kembali ke bulan Desember 2017, Old Trafford menjadi saksi bisu salah satu insiden paling kontroversial dalam sejarah Derbi Manchester modern. Kala itu, Manchester City, yang masih di bawah komando Pep Guardiola, berhasil memetik kemenangan krusial di kandang rival mereka. Gol penentu dari Nicolas Otamendi tidak hanya mengamankan tiga poin, tetapi juga memperlebar keunggulan City atas United menjadi 11 poin di puncak klasemen Premier League.

Euforia kemenangan tersebut mendorong para pemain dan staf City untuk merayakan keberhasilan mereka dengan meriah di ruang ganti tim tamu. Namun, perayaan yang dianggap berlebihan ini tidak diterima dengan baik oleh manajer Manchester United saat itu, Jose Mourinho. Menurut Mourinho, perayaan tersebut melewati batas kesopanan dan dianggap sebagai tindakan provokasi.

Ketegangan memuncak ketika Mourinho terlibat dalam adu argumen sengit dengan kiper City, Ederson. Situasi lantas dengan cepat merambat menjadi keributan massal di koridor ruang ganti. Dalam kekacauan tersebut, Mourinho dilaporkan dilempari susu, sementara asisten pelatih Guardiola, Mikel Arteta, mengalami luka sayatan akibat terkena wadah minuman. Diperkirakan hingga 20 pemain dan staf dari kedua belah pihak terlibat dalam insiden pasca-pertandingan tersebut, menandai salah satu momen paling memalukan dalam derbi.

Respons Pep Guardiola dan Tanggapan Dingin Jose Mourinho

Dua hari setelah insiden yang disebut ‘Perang Susu’ itu, Pep Guardiola angkat bicara. Ia memang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, namun dengan catatan. Guardiola menegaskan bahwa niat timnya hanyalah untuk merayakan kemenangan derbi di dalam ruang ganti. “Kami harus menikmati momen-momen itu. Jika orang tidak bisa memahami itu, maka saya minta maaf,” ujar Guardiola saat itu.

Ia melanjutkan, “Kami memenangkan derbi. Jika kami tidak benar, maka saya meminta maaf kepada seluruh Manchester United. Niat kami bukan itu. Itu adalah untuk merayakan di dalam ruang ganti.” Guardiola mengindikasikan bahwa perayaan adalah hal yang wajar setelah kemenangan penting, namun ia menolak bertanggung jawab penuh atas pecahnya perkelahian itu sendiri.

Di sisi lain, Jose Mourinho menanggapi insiden tersebut dengan sikap yang khas, meremehkan dan terkesan enggan memperpanjang perdebatan. Dalam konferensi pers pra-pertandingan melawan Bournemouth, Mourinho mengklaim bahwa perdebatan tentang derbi telah mengalihkan fokus dari persiapan timnya. “Dia bilang, dia bilang. Saya di sini bukan untuk mengomentari perkataannya,” kata Mourinho dingin.

Manajer asal Portugal itu menambahkan, “Satu-satunya yang bisa saya katakan adalah bagi saya [itu] hanyalah masalah keragaman, keragaman dalam perilaku, keragaman dalam edukasi, hanya itu dan tidak lebih dari itu.” Komentarnya yang tajam ini secara tidak langsung menyoroti perbedaan filosofi dan etika yang ia nilai antara kedua tim, menambah bumbu pedas pada rivalitas yang sudah ada.

Pergeseran Kendali: Dari Guardiola ke Maresca, Kini Lawan Carrick

Waktu telah bergulir sejak insiden panas di tahun 2017 tersebut. Kini, landscape Derbi Manchester telah mengalami perubahan signifikan di kursi kepelatihan. Pep Guardiola telah meninggalkan Manchester City pada musim panas ini, menandai berakhirnya sebuah era dominasi yang luar biasa di Etihad.

Baca Juga :

Penggantinya adalah Enzo Maresca, sosok yang kini mengemban tugas berat untuk mempertahankan standar tinggi yang telah ditetapkan Guardiola. Maresca akan menghadapi tantangan besar pertamanya di Old Trafford dalam laga derbi akhir pekan ini, di mana ia akan berhadapan dengan Michael Carrick, yang kini memimpin Manchester United. Pertemuan ini bukan hanya sekadar adu taktik, tetapi juga pertarungan reputasi bagi kedua manajer yang relatif baru di peran kunci ini.

Bagi Maresca, laga ini adalah kesempatan emas untuk segera membuktikan kredibilitasnya dan menegaskan bahwa City masih merupakan kekuatan yang dominan. Sementara itu, Carrick memiliki tekanan yang tak kalah besar untuk mempertahankan kebanggaan dan momentum positif bagi para penggemar Setan Merah.

Momentum Positif Setelah Kemenangan Derbi Terakhir bagi United

Pertandingan derbi yang akan datang ini menjanjikan intrik lebih lanjut, terutama mengingat hasil pertemuan terakhir kedua tim. Manchester United berhasil memetik kemenangan penting 2-0 di Old Trafford pada laga sebelumnya, berkat gol-gol indah dari Bryan Mbeumo dan Patrick Dorgu. Kemenangan tersebut tidak hanya memberikan kebanggaan instan, tetapi juga berkontribusi pada finis ketiga Manchester United di akhir musim 2025/26.

Hasil positif ini tentu saja menjadi modal berharga bagi skuad asuhan Michael Carrick. Kemenangan di derbi terakhir telah memberikan ‘hak membual’ kepada para penggemar United dan memberikan suntikan kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan tim. Maresca, di sisi lain, akan berusaha keras untuk merebut kembali dominasi dan mengembalikan kebanggaan City di laga derbi kali ini. Motivasi untuk membalas kekalahan sebelumnya pasti akan menjadi pemicu semangat anak asuhnya.

Bagi Manchester United, kemenangan ini bukan sekadar tiga poin; ini adalah pernyataan kuat tentang kemampuan mereka untuk bersaing di level tertinggi. Hal ini juga akan menjadi indikator penting mengenai arah dan kemajuan di bawah kepemimpinan Carrick, terutama dalam menghadapi rival sekota yang selalu menjadi penguji sejati.

Melanjutkan Sejarah Rivalitas Sengit dan Ambisi Musim Ini

Setiap Derbi Manchester adalah cerita baru yang ditulis di atas warisan rivalitas yang kaya dan seringkali bergejolak. Insiden ‘Perang Susu’ tahun 2017 hanyalah salah satu babak dalam saga panjang persaingan ini, mengingatkan kita betapa tingginya emosi dan taruhan dalam setiap pertemuan.

Kini, dengan Maresca dan Carrick di pucuk pimpinan, derbi ini akan memasuki era baru. Mereka mewarisi sejarah kekacauan dan persaingan ketat, dan kini memiliki tanggung jawab untuk menulis babak mereka sendiri. Bagi United, laga ini adalah kesempatan untuk melanjutkan momentum positif dari musim lalu dan membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan yang harus diperhitungkan dalam perburuan gelar liga musim ini.

Kemenangan di derbi tidak hanya memberikan poin krusial tetapi juga dorongan moral yang tak ternilai harganya bagi para pemain dan penggemar. Ini adalah kesempatan untuk menegaskan identitas dan ambisi di awal musim yang panjang dan menantang. Kekalahan, di sisi lain, bisa meredupkan semangat dan menimbulkan pertanyaan tentang arah tim.

Para penggemar Manchester United di seluruh dunia akan menantikan pertandingan hari Minggu sore ini dengan napas tertahan, berharap tim kesayangan mereka dapat mengukir sejarah baru dan melanjutkan tradisi kemenangan di salah satu pertandingan paling panas di dunia sepak bola. Ini akan menjadi pertunjukan taktik, gairah, dan tentu saja, potensi drama yang tak terduga.