Dari Ferguson ke Roma: Mengenang Kisah Wilfried Zaha dan Manchester United
Wilfried Zaha, sosok yang dikenang sebagai pembelian terakhir Sir Alex Ferguson di Manchester United, kini menjadi target AS Roma setelah berstatus bebas transfer.
reddevilspulse – Nama Wilfried Zaha kembali menyeruak dalam bursa transfer, kali ini dihubungkan dengan raksasa Serie A, AS Roma. Namun, bagi para penggemar Manchester United, nama Zaha membawa memori khusus: dia adalah pembelian terakhir yang dilakukan oleh legenda Sir Alex Ferguson sebelum pensiun, hampir 14 tahun silam.

Target Baru AS Roma Setelah Gagal Zirkzee
Ketertarikan Roma pada Zaha muncul setelah klub ibukota Italia itu gagal mendapatkan Joshua Zirkzee. Zirkzee, yang sebelumnya dikaitkan dengan Juventus dan Napoli, pada akhirnya mengakhiri jendela transfer dengan tetap bertahan di klubnya. Kini, pandangan Giallorossi beralih ke Wilfried Zaha yang berstatus bebas agen.
Gian Piero Gasperini, pelatih Roma, dikabarkan sangat menginginkan seorang penyerang sayap yang mampu menusuk ke dalam dari sisi kiri, karakteristik yang sangat lekat dengan permainan Zaha sepanjang kariernya. Roma sendiri tidak asing dengan pemain asal Pantai Gading ini, karena mereka juga sempat mengincarnya pada musim panas 2023 sebelum akhirnya Zaha memutuskan pindah ke Galatasaray.
Perjalanan Zaha Menuju Status Bebas Agen
Pemain berusia 33 tahun ini telah berlatih dengan mantan klubnya, Crystal Palace, sepanjang musim panas. Namun, Eagles memilih untuk tidak mengontraknya kembali. Status bebas agen Zaha menjadi mungkin setelah ia resmi dilepas oleh Galatasaray pada musim panas ini. Perjalanannya di Galatasaray terbilang singkat, hanya satu musim penuh sebelum ia dipinjamkan ke Lyon pada musim panas 2024.
Ia kemudian kembali ke Istanbul pada Januari berikutnya, hanya untuk dipinjamkan lagi ke klub MLS, Charlotte FC, hanya seminggu kemudian. Serangkaian peminjaman dan akhirnya pelepasan ini membuat Zaha kini bebas untuk bernegosiasi dengan klub mana pun, bahkan setelah jendela transfer ditutup, karena statusnya tanpa klub.
Momen Singkat dan Penuh Tantangan di Old Trafford
Bagi penggemar Manchester United, kisah Zaha tak bisa dilepaskan dari Old Trafford. Ia didatangkan dengan nilai £15 juta dari Crystal Palace, menjadi rekrutan penutup era Sir Alex Ferguson yang legendaris. Namun, takdir berkata lain. Zaha tiba di klub saat David Moyes mengambil alih kursi manajer, dan ia kesulitan mendapatkan menit bermain.
Selama waktunya di United, Zaha hanya mencatatkan dua penampilan di Premier League, dengan total hanya 28 menit di bawah asuhan Moyes. Setelah periode yang sulit itu, ia dipinjamkan ke Cardiff City, lalu kembali ke Crystal Palace di bawah Louis van Gaal sebelum akhirnya dilepas secara permanen.
Baca Juga :
- Misteri JJ Gabriel Terpecahkan: Bintang Muda MU Siap Beraksi di Tim Senior
- Jamie Redknapp: Manchester United Lewatkan Transfer Terbaik di Mamadou Sangare?
Pahitnya Rumor Malisius yang Menghancurkan Mental
Zaha sendiri tidak memiliki kenangan manis tentang waktunya di Manchester United. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2018 dengan ShortList, ia secara terbuka menceritakan tentang rumor jahat yang beredar tentang dirinya ketika ia tidak bermain untuk klub. Rumor tersebut, yang tidak pernah diklarifikasi oleh pihak klub, sangat memukul mentalnya.
“Ada rumor bahwa alasan saya tidak bermain untuk United adalah karena saya tidur dengan putri David Moyes, dan tidak ada seorang pun [di United] yang berusaha membersihkan itu,” ungkap Zaha. “Jadi saya berjuang melawan setan saya sendiri, rumor yang saya tahu tidak benar. Saya menghadapi ini di usia 19 tahun; tinggal di Manchester sendirian, jauh dari siapa pun, karena klub memiliki kendali atas tempat tinggal saya.”
“Mereka tidak memberi saya mobil, seperti pemain lain [yang mendapatkannya]. Tidak ada. Saya hidup dalam neraka ini sendirian, jauh dari keluarga saya, dan saya berpikir, ‘Jika ini tidak membuat saya lebih kuat, apa lagi?’ Ketika saya di United, saya punya [uang], tapi saya masih sangat terpuruk dan depresi. Orang berpikir hidupmu berbeda karena kamu punya uang, kamu punya ketenaran, jadi mereka tidak memperlakukanmu sama,” tambahnya, menggambarkan betapa beratnya tekanan mental yang ia alami.
Bangkit dan Bersinar di Luar Manchester United
Meski mengalami masa sulit di United, Zaha berhasil membangun kembali reputasinya sebagai salah satu penyerang sayap paling berbahaya di Premier League. Setelah meninggalkan Old Trafford, ia kembali ke Crystal Palace dan menjadi ikon klub tersebut. Statistiknya berbicara banyak: 68 gol dan 30 assist dalam 291 pertandingan Premier League untuk Palace menunjukkan kualitas dan konsistensinya.
Reputasi impresif inilah yang membuatnya masih diminati oleh klub-klub besar Eropa seperti AS Roma. Kemampuannya menggiring bola, kecepatan, dan insting golnya tetap menjadi ancaman serius bagi pertahanan lawan.
Peluang Baru di Italia: Akhir Kisah yang Berbeda
Kini, dengan AS Roma yang tertarik, Wilfried Zaha memiliki kesempatan untuk memulai babak baru dalam kariernya di Serie A. Jika transfer ini terwujud, ini akan menjadi pengalaman pertamanya bermain di liga top Italia, menambah daftar liga Eropa yang pernah ia jajaki.
Bagi Zaha, ini adalah kesempatan untuk membuktikan kualitasnya di panggung baru, jauh dari bayang-bayang masa lalu yang pahit di Manchester United. Sementara itu, bagi penggemar Red Devils, melihat Zaha bersinar di tempat lain selalu menjadi pengingat akan bakat besar yang pernah mereka miliki, namun tak pernah sepenuhnya mekar di Old Trafford.
