Skandal Keuangan City: Membayangi Strategi Perekrutan United?

Visi Sir Jim Ratcliffe untuk membangun kembali Manchester United dengan meniru struktur kesuksesan rival sekota, Manchester City, kini dipertanyakan setelah City dinyatakan bersalah atas pelanggaran keuangan.

skandal-city-bayangi-perekrutan-united

reddevilspulse – Visi Sir Jim Ratcliffe untuk membawa Manchester United kembali ke puncak, dengan terang-terangan mengagumi dan bahkan meniru struktur kesuksesan Manchester City, kini menghadapi sorotan tajam. Pengakuan bersalah Manchester City atas 115 dakwaan pelanggaran keuangan baru-baru ini telah mengguncang dunia sepak bola, memunculkan pertanyaan signifikan terhadap strategi perekrutan staf yang diterapkan di Old Trafford.

skandal Manchester City

-1]

Visi Ratcliffe: Belajar dari Rival Sekota

Dua tahun lalu, dalam sebuah pertemuan dengan jurnalis Manchester United, Sir Jim Ratcliffe tidak ragu untuk memuji Manchester City. Pemilik sebagian saham United itu berulang kali menyebut City sebagai standar emas yang patut dipelajari. Ia terkesan dengan struktur yang masuk akal, orang-orang berkualitas, lingkungan kompetitif yang terdorong, dan sentuhan kehangatan yang ia lihat di klub rival tersebut.

Ratcliffe dengan tegas menyatakan ambisinya: “Kami punya banyak hal untuk dipelajari dari tetangga berisik kami (Manchester City) dan tetangga lainnya (Liverpool). Mereka adalah musuh pada akhirnya. Tidak ada yang lebih saya inginkan selain menjatuhkan keduanya dari takhta mereka.” Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa Ratcliffe melihat City sebagai tolok ukur kesuksesan yang ingin ia lampaui.

Dalam upaya mencapai ambisi tersebut, strategi perekrutan United di bawah kendali Ratcliffe terlihat jelas mengarah pada menarik bakat-bakat yang pernah bekerja di Manchester City. Langkah ini dianggap sebagai jalan pintas untuk mengadopsi elemen-elemen yang membuat City begitu dominan di kancah domestik dan Eropa.

Eksodus Staf City ke Old Trafford

Salah satu perekrutan paling signifikan adalah Omar Berrada sebagai CEO Manchester United. Penunjukannya disebut-sebut sebagai ‘kudeta’ besar. Pernyataan resmi klub saat itu bahkan menggarisbawahi kedatangan Berrada sebagai “langkah pertama” dalam perjalanan untuk mengembalikan United sebagai “klub peraih gelar juara”. Berrada, yang sebelumnya menjabat sebagai chief football operations officer di City Football Group, datang dengan reputasi mentereng, setelah malang melintang di berbagai posisi penting di City, dimulai sebagai direktur komersial.

Perekrutan personel mantan City tidak berhenti pada Berrada. Jason Wilcox, yang bergabung dari Southampton, juga memiliki latar belakang 11 tahun di City sebagai direktur akademi. Selain itu, Toby Craig ditunjuk sebagai direktur komunikasi, Sam Ertih sebagai direktur performa, Stephen Torpey sebagai direktur akademi, dan Alan Wright sebagai asisten pelatih tim U-21. Menariknya, dari keenam nama tersebut, hanya Berrada yang langsung pindah dari City ke United. Sisanya datang dari klub atau lembaga lain, meskipun semuanya pernah mengasah kemampuan mereka di Etihad.

Skandal Keuangan City: Sukses yang Tercemar

Namun, dunia sepak bola dikejutkan pada Jumat lalu ketika terungkap bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir semua dari 115 dakwaan pelanggaran keuangan yang dihadapinya. Kejutan berlanjut pada Senin berikutnya ketika Premier League mengumumkan bahwa komisi independen telah menemukan City bersalah atas semua dakwaan terkait pelanggaran serius terhadap aturan keuangan liga.

Baca Juga :

Laporan komisi independen merinci bahwa antara musim 2009/10 dan 2017/18, City mengatur kontrak ‘palsu’, salah mencantumkan laporan keuangan, menyembunyikan kondisi finansial yang sebenarnya, dan melanggar batas pengeluaran. Ini baru puncak gunung es dari salah satu skandal olahraga terbesar sepanjang masa. Sukses City kini tercemar, dengan laporan yang menguraikan bahwa mereka telah melebih-lebihkan pendapatan sponsor lebih dari 830 juta Poundsterling selama sembilan tahun, sebuah jumlah yang mengubah permainan di pasar transfer.

City diperkirakan akan mengajukan banding dan terus bersikukuh tidak bersalah, namun sanksi tampaknya tak terhindarkan. Sanksi-sanksi ini dapat mencakup denda, pengurangan poin, dan sanksi olahraga lainnya, yang bisa berdampak drastis pada masa depan klub tersebut. Kasus ini bahkan melibatkan kepemilikan klub dari Abu Dhabi, dan fans perlu berhati-hati dalam berspekulasi bahwa staf, baik yang dulu maupun sekarang, terlibat langsung dalam pelanggaran aturan keuangan tersebut.

Bayangan di Atas Perekrutan Manchester United

Terkuaknya skandal keuangan ini menimbulkan pertanyaan yang sah bagi fans Manchester United. Apakah langkah Ratcliffe merekrut begitu banyak staf dari Manchester City adalah keputusan yang tepat, mengingat reputasi City kini ternoda? Pendukung United yang skeptis bisa berargumen bahwa mereka tidak ingin mantan staf City bekerja di Old Trafford, karena pengalaman kerja mereka diperkuat oleh asosiasi dengan klub yang, pada tingkat tertinggi, tidak bermain sesuai aturan.

Sebagai contoh, Omar Berrada, yang menghabiskan waktu di berbagai peran terkait keuangan di City, tidak dikenai tuduhan apa pun selama proses tersebut dan tidak diminta memberikan bukti. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan individu sangat penting untuk dibedakan dari kesalahan institusi. Namun, munculnya skandal ini secara tidak langsung menyentuh strategi United dalam membangun tim manajemen baru.

Merit Individu dan Kepercayaan di Old Trafford

Meskipun tidak ada keraguan bahwa setiap mantan karyawan City di United meningkatkan kredensial mereka melalui karier di Etihad, penting untuk ditekankan bahwa mereka tidak dipekerjakan semata-mata karena pernah bekerja di City. Setiap dari enam staf tersebut direkrut berdasarkan kualifikasi dan merit individu mereka untuk peran masing-masing di United.

Faktanya, bisa jadi mereka akan berakhir bekerja untuk United meskipun tidak pernah memiliki pengalaman di City sebelumnya. Sumber di United meyakini bahwa tidak ada ‘jejak’ yang mengarah kembali ke Old Trafford terkait skandal keuangan City. Ada keyakinan penuh bahwa proses perekrutan dilakukan secara transparan dan berdasarkan kompetensi.

Ujian Sesungguhnya Bagi Proyek Ratcliffe

Skandal Manchester City telah membuka ‘kotak pandora’ yang luar biasa di dunia sepak bola. Bagi Manchester United, situasi ini mungkin menghadirkan dilema. Di satu sisi, visi awal Ratcliffe untuk meniru kesuksesan City kini terasa pahit. Di sisi lain, ini bisa menjadi kesempatan bagi United untuk benar-benar menunjukkan bahwa mereka sedang membangun proyek yang bersih dan berkelanjutan, dengan fondasi yang kokoh dan etika yang tak tercela.

Pertanyaan tentang validitas ‘standar emas’ yang Ratcliffe pernah kagumi akan terus membayangi. Namun, dengan kepemimpinan baru dan komitmen untuk membangun kembali, United kini memiliki kesempatan untuk mendefinisikan standar mereka sendiri. Proyek Ratcliffe di Old Trafford akan diuji tidak hanya oleh hasil di lapangan, tetapi juga oleh integritas dalam setiap aspek manajemen klub, terlepas dari apa pun yang terjadi pada tetangga berisik mereka.

1 thought on “Skandal Keuangan City: Membayangi Strategi Perekrutan United?”

Comments are closed.