Ujian Tak Terduga Man Utd: Menjelajahi Como di Liga Champions
Manchester United bersiap menghadapi Como 1907 di Liga Champions, sebuah klub Italia yang bangkit secara fenomenal dari Serie D hingga panggung Eropa berkat investasi cerdas dan mantan bintang Setan Merah, Raphael Varane.
reddevilspulse – Manchester United akan bertandang ke Italia untuk menghadapi salah satu kisah dongeng sepak bola Eropa musim ini, Como 1907, dalam ajang Liga Champions. Pertandingan yang dijadwalkan besok malam ini bukan sekadar laga biasa, melainkan pertemuan dengan sebuah klub yang bangkit dari jurang kebangkrutan hingga panggung termegah sepak bola benua, sebuah perjalanan luar biasa yang melibatkan tangan dingin investor asal Indonesia dan juga mantan bintang Setan Merah, Raphael Varane.

Kisah Kebangkitan Fenomenal Como 1907
Sebelum tahun 2019, gagasan Como 1907 bermain melawan raksasa seperti Manchester United mungkin terdengar mustahil. Klub ini memang memiliki sejarah di Serie A, namun keberadaan mereka di kasta tertinggi sepak bola Italia tidaklah reguler. Bahkan, sekitar tujuh tahun sebelum para investor mengambil alih, Como terpuruk di Serie D, liga tingkat keempat yang semi-profesional di Italia. Masalah keuangan yang serius dan kondisi stadion yang tidak sepadan dengan keindahan Danau Como di sekitarnya menjadi tantangan besar.
Namun, titik balik datang pada tahun 2019. Dua pengusaha bersaudara asal Indonesia, Robert Budi Hartono dan mendiang Michael Bambang Hartono, mengambil alih kendali klub. Keluarga Hartono, yang pada tahun 2025 diperkirakan memiliki kekayaan sebesar £32.8 miliar, membawa angin segar dan stabilitas finansial yang sangat dibutuhkan. Sejak saat itu, nasib Como berubah drastis, membangkitkan semangat klub dan membawa mereka naik divisi secara luar biasa, meski bukan dalam semalam.
Investasi Cerdas ala Hartono Brothers
Jurnalis lepas sekaligus penggemar Como, Greg Whelan, menjelaskan bahwa keberhasilan klub tidak terlepas dari suntikan dana besar. Setelah melewati dua divisi secara bertahap, tiga tahun terakhir menjadi masa ledakan bagi Como. Dalam tiga musim terakhir saja, Como telah menghabiskan sekitar €300 juta (sekitar £252.4 juta) untuk biaya transfer pemain. Pada tahun 2024, mereka berhasil promosi kembali ke Serie A. Musim berikutnya, mereka mengamankan posisi ke-10, dan musim lalu (2025/2026), Como bahkan melampaui ekspektasi dengan finis di posisi keempat, mengungguli AC Milan dan Juventus, sekaligus mengamankan tiket ke Liga Champions.
Namun, Whelan menekankan bahwa ini bukan sekadar “membuang-buang uang”. Model investasi mereka sangatlah cerdas dan terencana. Como tidak seperti klub-klub yang hanya membeli pemain-pemain bintang dengan harga selangit. Sebaliknya, mereka berinvestasi dengan baik, mencari “permata tersembunyi” dari liga-liga di luar Italia, seperti Spanyol atau Belanda. Para pemain yang mereka rekrut mungkin bukan nama besar, namun mereka dipilih dengan cermat dan terbukti mampu meningkatkan kualitas tim. Pendekatan ini adalah sebuah model yang akan sangat dihormati oleh tim seperti INEOS, pemilik minoritas Manchester United, karena mengingatkan pada strategi klub-klub sukses seperti Brighton atau Bournemouth dalam menemukan bakat.
Sentuhan Bintang: Varane, Henry, dan Fabregas
Kehadiran nama-nama besar di Como tidak hanya terbatas pada lapangan hijau. Setelah meninggalkan Manchester United pada tahun 2024, Raphael Varane sempat bergabung dengan Como. Namun, cedera lutut parah pada debutnya mengakhiri karier sang bek secara prematur. Meskipun demikian, Varane yang sangat populer di kalangan penggemar United, tidak meninggalkan Como begitu saja. Ia diangkat ke jajaran direksi, di mana ia kini memberikan nasihat mengenai pengembangan pemain muda, edukasi, dan inovasi produk.
Baca Juga :
- Pujian Carrick untuk Tielemans Hadirkan Dilema Baru MU
- Kontroversi Wasit Selimuti Derby Roses: Kartu Merah Terhindar, Penalti Ditolak
Varane bukanlah satu-satunya mantan bintang yang terlibat. Thierry Henry memiliki saham minoritas di klub, dan manajer mereka saat ini adalah Cesc Fabregas, mantan gelandang Arsenal dan Chelsea, yang juga tetap menjadi pemegang saham setelah berinvestasi saat masih menjadi pemain dan kemudian beralih ke kursi pelatih. Keterlibatan bintang-bintang ini, ditambah dengan lokasi Como yang indah secara geografis, menjadi bagian dari strategi klub dalam menciptakan “wisata sepak bola”, memanfaatkan daya tarik wilayah untuk meningkatkan daya tarik klub sebagai bagian dari industri hiburan yang lebih besar.
Gaya Bermain Fabregas dan Ancaman Pemain Kunci
Di bawah kepemimpinan Cesc Fabregas, Como memainkan sepak bola menyerang yang menarik. Gaya bermain mereka dicirikan oleh umpan-umpan cepat dan tempo tinggi, yang sangat sesuai dengan filosofi Fabregas. Manchester United harus mewaspadai beberapa pemain kunci yang menjadi motor serangan Como.
Nico Paz, gelandang serang berusia 22 tahun, adalah salah satu simbol visi Fabregas. Ia pernah bermain bersama Lisandro Martinez di Piala Dunia (menunjukkan latar belakang Argentina-nya), mencetak 12 gol dan 7 assist musim lalu, dan sudah dua kali masuk papan skor musim ini, termasuk saat Como mengalahkan Fiorentina. Selain Paz, United juga perlu mewaspadai Tasos Douvikas. Whelan menyebutnya “fundamental dan luar biasa”, menjadi pencetak gol terbanyak kedua di Serie A musim lalu, hanya kalah dari Lautaro Martinez dari Inter. Douvikas telah mengoleksi empat gol di semua kompetisi musim ini, termasuk gol ketiga melawan Fiorentina, dan merupakan seorang striker sejati yang lengkap.
Ada juga talenta muda berusia 19 tahun, Mattia Liberali, yang mencetak gol pada debutnya akhir pekan lalu. Meskipun belum tentu menjadi starter, Liberali bisa menjadi pemain kejutan dari bangku cadangan dan patut diperhatikan untuk masa depan.
Stadio Giuseppe Sinigaglia: Tantangan Atmosfer Pertandingan
Para penggemar Manchester United yang beruntung mendapatkan tiket untuk pertandingan besok malam mungkin tidak akan menemukan kemegahan seperti kunjungan terakhir ke Metropolitano. Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como, hanya berkapasitas 12.000 penonton untuk pertandingan Serie A, dan angka itu menyusut menjadi di bawah 11.000 untuk Liga Champions demi mengakomodasi VIP UEFA dan media. Sektor pendukung tim tamu ditempatkan di sudut terbuka stadion, posisi yang kurang menguntungkan mengingat perkiraan hujan lebat selama pertandingan.
Meskipun demikian, pemilik Como telah merencanakan pembaruan stadion dalam dua tahun ke depan dan telah bekerja keras untuk mempersiapkan lapangan agar memenuhi standar Liga Champions. Bagi semua yang terlibat di Como, termasuk para penggemar dan manajemen, momen Liga Champions ini adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, sebuah hadiah setelah bertahun-tahun berjuang dari keterpurukan finansial. Bahkan hujan pun tidak akan meredupkan semangat mereka.
Realitas dan Ambisi Como di Panggung Eropa
Whelan menyimpulkan bahwa partisipasi di Liga Champions adalah sebuah tantangan besar bagi skuad Como. Klub mengakui bahwa mereka masih dalam tahap belajar dan belum memiliki banyak pengalaman di kompetisi elite Eropa ini, terlepas dari investasi besar yang telah digelontorkan. Lolosnya mereka ke Liga Champions adalah momen yang mengejutkan, bahkan bagi internal klub sendiri.
Namun, kepemilikan klub yang bijaksana memastikan Como tidak akan terlena. Mereka menyadari bahwa Liga Champions adalah sebuah petualangan dan hadiah, bukan tujuan yang direncanakan tiga tahun lalu. Fokus utama mereka tetap di Serie A, memastikan bahwa mereka bisa tetap kompetitif di liga domestik untuk kembali mendapatkan tiket ke kompetisi Eropa musim depan, dalam bentuk apa pun. Bagi Manchester United, pertandingan ini adalah ujian menarik melawan tim yang penuh semangat dan strategi cerdas.

2 thoughts on “Ujian Tak Terduga Man Utd: Menjelajahi Como di Liga Champions”
Comments are closed.