Siklus Pelatih MU Kembali Diuji di Era Michael Carrick
Michael Carrick sedang menghadapi tekanan besar setelah Manchester United gagal menang dalam delapan pertandingan. Rekam jejak pergantian pelatih sejak 2013 menunjukkan masalah klub tidak pernah semata-mata berada di kursi pelatih.
reddevilspulse – Siklus pelatih MU kembali menjadi pembicaraan besar di Old Trafford seiring tekanan yang kini mengarah kepada Michael Carrick. Manchester United belum menang dalam delapan pertandingan terakhir dan baru meraih dua kemenangan dari 12 laga awal Liga Inggris 2026/27, sebuah catatan yang membuat posisi Carrick berada dalam pengawasan serius.

Tekanan Besar untuk Michael Carrick
Carrick sempat membawa optimisme ketika menangani United setelah Ruben Amorim diberhentikan pada Januari. Mantan gelandang Setan Merah itu mengantar tim finis di posisi ketiga serta kembali lolos ke Liga Champions, pencapaian yang kemudian membuatnya memperoleh jabatan permanen.
Namun, momentum tersebut menghilang cepat pada awal musim ini. Delapan pertandingan tanpa kemenangan membuat United terlihat jauh dari tim yang siap menantang papan atas. Dalam situasi seperti itu, diskusi mengenai pergantian pelatih kembali muncul, meski klub memutuskan memberi Carrick waktu tambahan untuk membalikkan keadaan.
Keputusan itu patut dipahami dari sudut pandang yang lebih luas. Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, United sudah menunjuk tujuh manajer permanen. Tidak satu pun dari mereka mampu membawa gelar Liga Inggris kembali ke Old Trafford. Karena itu, mengganti pelatih lagi belum tentu menyentuh akar persoalan.
Warisan Ferguson yang Terlalu Sulit Digantikan
Besarnya tantangan di Manchester United tercermin dari sejarah klub. Hanya tiga sosok yang pernah mengantarkan United menjadi juara liga: Ernest Mangnall, Sir Matt Busby, dan Ferguson. Mereka bukan sekadar pelatih sukses, melainkan figur yang membangun periode panjang dengan fondasi kuat.
Ferguson meninggalkan standar luar biasa tinggi. Ketika ia pergi, United tidak hanya kehilangan seorang manajer, tetapi juga pusat dari struktur sepak bola yang telah berjalan selama puluhan tahun. Sejak saat itu, klub berkali-kali mencoba pendekatan berbeda: menunjuk penerus dari klub yang lebih kecil, pelatih berpengalaman, spesialis trofi, mantan pemain, hingga pelatih dengan gagasan taktik yang sangat spesifik.
Hasilnya tetap tidak konsisten. Ada trofi, ada musim dengan posisi finis tinggi, dan ada periode permainan yang menjanjikan. Akan tetapi, tidak ada proyek yang bertahan cukup lama sekaligus berkembang cukup stabil untuk mengembalikan United ke level perebutan titel liga.
David Moyes Memulai Masa Transisi yang Berat
David Moyes menjadi pilihan pertama setelah Ferguson. Penunjukannya pada 2013 langsung memunculkan keraguan karena ia datang dari Everton, meski reputasinya sebagai pelatih yang mampu menjaga stabilitas klub cukup kuat.
Masalah terbesar Moyes datang sejak awal. Pada bursa transfer pertamanya, United hanya mendatangkan Marouane Fellaini dari Everton setelah mengejar sejumlah target besar sepanjang musim panas, termasuk Cesc Fabregas dan Thiago Alcantara. Kegagalan itu menjadi tanda awal kesulitan klub dalam menuntaskan perekrutan pemain penting.
Moyes akhirnya hanya bertahan 10 bulan. United berada di peringkat ketujuh Liga Inggris ketika ia pergi, dengan 27 kemenangan, sembilan hasil imbang, dan 15 kekalahan dari total 51 laga. Persentase kemenangannya mencapai 52,9 persen, tetapi tekanan dan ekspektasi di Old Trafford terbukti terlalu besar untuk masa transisi yang tidak didukung secara optimal.
Van Gaal dan Mourinho Membawa Trofi, Bukan Stabilitas
Louis van Gaal didatangkan pada 2014 dengan pengalaman besar dari berbagai klub elite Eropa. Ia memang memberi United Piala FA, trofi pertama klub setelah era Ferguson, tetapi gagal membawa tim finis di empat besar pada musim keduanya. United juga tersingkir dari fase grup Liga Champions dan kemudian kalah dari Liverpool pada babak 16 besar Liga Europa.
Sejumlah perekrutan di bawah Van Gaal tidak memberikan dampak sesuai harapan, termasuk Angel Di Maria, Bastian Schweinsteiger, dan Morgan Schneiderlin. Anthony Martial menjadi salah satu rekrutan yang paling menonjol dalam periode tersebut. Van Gaal tetap dipecat setelah memenangkan Piala FA, sebuah akhir yang memperlihatkan betapa pendeknya ruang kesabaran di klub.
Baca Juga :
Pada 2025, Van Gaal kembali mengkritik pengelolaan sepak bola United. Ia menilai klub terlalu berorientasi komersial dan pelatih tidak memiliki pengaruh yang cukup dalam keputusan transfer. Pandangan itu relevan ketika melihat banyaknya pelatih dengan kebutuhan skuad berbeda yang datang dan pergi, sementara susunan pemain tidak selalu mendukung gagasan pelatih yang sedang menjabat.
Jose Mourinho lalu membawa dua trofi pada musim pertamanya, yakni Piala Liga dan Liga Europa. United juga mengamankan tiket Liga Champions melalui gelar Liga Europa meski finis keenam di liga. Musim keduanya menghasilkan posisi runner-up Liga Inggris, 19 poin di belakang Manchester City, tanpa trofi.
Akan tetapi, hubungan Mourinho dengan pemain dan petinggi klub memburuk. Ia merasa United perlu berinvestasi lebih agresif setelah finis kedua, sedangkan ketegangan dengan beberapa pemain terus muncul ke permukaan. Awal musim 2018/19 yang buruk akhirnya mengakhiri masa kerjanya. Mourinho meninggalkan dua piala, tetapi tidak membangun identitas sepak bola atau suasana ruang ganti yang tahan lama.
Solskjaer hingga Ten Hag: Kemajuan yang Terhenti
Ole Gunnar Solskjaer memulihkan atmosfer ketika awalnya datang sebagai pelatih interim. United finis ketiga pada 2019/20, lalu menjadi runner-up Liga Inggris pada musim berikutnya. Timnya juga mencapai semifinal Piala FA, Piala Liga, dan Liga Europa, sebelum kalah dari Villarreal pada final Liga Europa.
Solskjaer membangun lini depan yang menjanjikan melalui Marcus Rashford, Anthony Martial, dan Mason Greenwood. Namun, kedatangan Cristiano Ronaldo mengubah keseimbangan serangan yang sebelumnya dibentuknya. Permainan United ikut berubah, sementara hasil memburuk hingga kekalahan telak dari Liverpool dan Watford mengakhiri masa kepemimpinannya pada November.
Erik ten Hag kemudian membawa Piala Liga dan Piala FA dalam dua setengah tahun. Namun, performa liga serta arah pembangunan skuad terus dipertanyakan. INEOS baru mengambil alih operasi sepak bola sekitar dua tahun setelah Ten Hag ditunjuk, sehingga perubahan struktur klub ikut memengaruhi statusnya dari manajer menjadi kepala pelatih.
Kemenangan Piala FA pada musim keduanya membuat Ten Hag memperoleh kontrak baru, tetapi ia tetap diberhentikan empat bulan kemudian. Situasi itu memperlihatkan betapa sulitnya membangun proyek jangka panjang ketika struktur dan arah klub berubah di tengah perjalanan.
Masalah Skuad yang Harus Diatasi Carrick
Ruben Amorim menjadi pilihan berikutnya, tetapi pendekatan 3-4-3 yang sangat melekat pada dirinya tidak pernah membawa keberhasilan di United. Ia bertahan selama 14 bulan dan kalah pada final Liga Europa melawan Tottenham sebelum akhirnya digantikan Carrick.
Kini, Carrick menghadapi persoalan yang tidak sepenuhnya baru. Ia memasuki musim ini tanpa pelapis di posisi bek kiri dan penyerang tengah. INEOS memilih memusatkan investasi pada lini tengah, tetapi keputusan tersebut membuat pilihan sang kepala pelatih di dua area penting tetap terbatas.
Bagi Carrick, membenahi hasil tidak cukup dilakukan melalui perubahan susunan pemain atau penyesuaian pendekatan pertandingan. Ia harus menemukan cara agar skuad tampil lebih stabil dengan sumber daya yang ada. Di sisi lain, klub perlu memastikan keputusan transfer dan perencanaan tim benar-benar selaras dengan kebutuhan staf pelatih.
Kesabaran Klub Akan Kembali Diuji
United memiliki alasan untuk menuntut respons cepat karena delapan laga tanpa kemenangan adalah catatan yang mengkhawatirkan. Namun, sejarah sejak 2013 juga mengingatkan bahwa pemecatan pelatih berulang kali belum menghasilkan solusi permanen.
Carrick tetap harus membuktikan dirinya layak memimpin proyek ini melalui perbaikan performa dan hasil. Pada saat yang sama, petinggi United memikul tanggung jawab untuk menciptakan struktur yang konsisten, memberi dukungan skuad yang tepat, serta menghentikan pola keputusan jangka pendek yang selama ini membuat setiap era baru berakhir sebelum fondasinya benar-benar terbentuk.
