Scholes Nilai INEOS Salah Arah Sejak Dan Ashworth Pergi

Paul Scholes menilai masalah Manchester United di bawah INEOS berakar dari keputusan berpisah dengan Dan Ashworth. Ia juga mempertanyakan arah struktur sepak bola klub setelah pergantian Erik ten Hag dan Ruben Amorim.

scholes-ineos-dan-ashworth

reddevilspulse – Paul Scholes menilai keputusan Manchester United berpisah dengan Dan Ashworth menjadi salah satu titik penting yang menjelaskan kekacauan arah klub di bawah kepemilikan minoritas INEOS. Mantan gelandang Setan Merah itu melihat persoalan di Old Trafford tidak sekadar berkaitan dengan performa pemain atau posisi Michael Carrick sebagai pelatih kepala.

Dan Ashworth

Dan Ashworth Dinilai Membawa Pengalaman yang Dibutuhkan

Dan Ashworth datang ke Manchester United dengan rekam jejak yang kuat di struktur sepak bola. Ia sebelumnya bekerja di Newcastle United dan Asosiasi Sepak Bola Inggris, serta dikenal berpengalaman dalam membangun proses jangka panjang di balik layar.

Namun, masa kerjanya di Old Trafford berjalan sangat singkat. Setelah melewati periode panjang gardening leave dari Newcastle, Ashworth akhirnya bergabung dengan United, tetapi kemudian meninggalkan klub melalui kesepakatan bersama hanya sekitar lima bulan setelah mulai bekerja.

Bagi Scholes, kepergian cepat tersebut menjadi pertanda bahwa ada masalah dalam cara INEOS mengelola perbedaan pandangan di internal klub. Ia percaya Ashworth semestinya diberi ruang untuk menjalankan peran yang memang dirancang untuknya, bukan justru disingkirkan ketika pandangannya tidak selaras dengan keinginan pihak lain.

Scholes menilai Ashworth punya keberanian untuk menyampaikan pendapat berbeda. Menurutnya, hal itu seharusnya menjadi kekuatan dalam struktur klub yang sehat, terutama di Manchester United yang membutuhkan keputusan sepak bola dengan perencanaan matang.

Perbedaan Pendapat soal Ruben Amorim

Salah satu pokok perbedaan yang mencuat berkaitan dengan pergantian pelatih setelah era Erik ten Hag. Ashworth dipahami tidak mendukung rencana mendatangkan Ruben Amorim sebagai pengganti Ten Hag.

Keberatan tersebut bukan semata soal kualitas Amorim. Scholes melihat persoalan yang lebih besar ada pada kecocokan antara gaya bermain pelatih baru dan komposisi pemain yang telah dibentuk untuk kebutuhan Ten Hag.

United sebelumnya memberi dukungan besar kepada Ten Hag di bursa transfer untuk membangun skuad sesuai pendekatan taktisnya. Ketika klub kemudian beralih ke Amorim pada awal musim, kebutuhan skuad otomatis berubah karena karakter permainan yang diinginkan pelatih asal Portugal itu berbeda.

Dalam pandangan Scholes, Ashworth memahami konsekuensi dari keputusan tersebut. Mengganti pelatih dengan pendekatan yang berbeda berarti United kembali menghadapi kebutuhan untuk melakukan penyesuaian besar terhadap skuad, baik dari sisi profil pemain maupun cara tim bermain.

Masalah semacam ini sangat relevan bagi suporter. Pergantian arah tanpa transisi yang jelas dapat membuat klub terus berada dalam siklus belanja pemain, perubahan peran, lalu evaluasi ulang. Pada akhirnya, pemain harus kembali beradaptasi sebelum fondasi yang sebelumnya dibangun benar-benar sempat terbentuk.

Jason Wilcox Memikul Tanggung Jawab Lebih Besar

Setelah Ashworth pergi, Jason Wilcox mengambil peran sebagai direktur sepak bola. Scholes mempertanyakan apakah perubahan tersebut sesuai dengan rancangan awal ketika INEOS mulai menata ulang struktur operasional Manchester United.

Wilcox memiliki pengalaman dalam pengembangan pemain muda dan pernah bekerja di Manchester City. Ia juga pernah menjalankan peran direktur sepak bola di Southampton. Meski demikian, Scholes berpendapat bahwa posisi direktur sepak bola utama di klub sebesar United membawa tuntutan yang berbeda.

Baca Juga :

Menurut Scholes, Wilcox pada awalnya lebih cocok diposisikan untuk bekerja di bawah seorang figur seperti Ashworth, khususnya dalam aspek teknis dan pengembangan bakat. Ketika ia kemudian menjadi figur utama dalam struktur sepak bola klub, tekanan dan tanggung jawabnya pun berubah secara signifikan.

Perubahan cepat dalam hierarki ini memperbesar sorotan terhadap INEOS. Suporter menginginkan kejelasan mengenai siapa yang memegang kendali atas strategi transfer, rekrutmen pelatih, serta arah permainan tim untuk beberapa musim ke depan.

Warisan Keputusan Erik ten Hag

Scholes juga menyoroti cara United menangani masa depan Ten Hag. Ia menilai klub sebenarnya sudah memperlihatkan keraguan terhadap sang pelatih pada musim panas, ketika mereka disebut telah mempertimbangkan beberapa kandidat lain untuk posisi tersebut.

Meski begitu, Ten Hag tetap bertahan dan kemudian menerima dukungan untuk membentuk tim berdasarkan kebutuhan sistemnya. Tidak lama setelah itu, United justru memutuskan berpisah dengan pelatih asal Belanda tersebut.

Situasi ini membuat pergantian ke Amorim semakin rumit. Jika pemain-pemain direkrut untuk gaya tertentu, lalu pelatih baru datang dengan tuntutan sistem yang tidak sama, klub harus menentukan apakah akan memaksa pelatih beradaptasi atau kembali merombak skuad.

Scholes menganggap kegagalan membaca konsekuensi tersebut menjadi bagian dari masalah mendasar United. Baginya, keputusan mengenai pelatih dan pemain seharusnya tidak berdiri sendiri. Keduanya harus berada dalam satu rencana sepak bola yang konsisten.

Tekanan Meningkat untuk INEOS dan Keluarga Glazer

Tekanan terhadap para pengambil keputusan di Old Trafford semakin besar setelah kekalahan 0-3 dari Bournemouth pada Minggu. Michael Carrick sempat berada dalam sorotan tajam, tetapi INEOS memutuskan untuk memberinya waktu lebih banyak guna membenahi hasil tim.

Scholes menegaskan bahwa Carrick bukan akar tunggal masalah Manchester United. Pelatih kepala tentu akan dinilai dari hasil, tetapi persoalan klub menurutnya jauh lebih luas daripada sekadar pergantian sosok di pinggir lapangan.

Pada laga melawan Bournemouth, kekecewaan suporter juga terdengar melalui nyanyian yang menyinggung Jim Ratcliffe, keluarga Glazer, dan Jason Wilcox. Para pemain turut menerima luapan frustrasi setelah pertandingan berakhir.

Bagi banyak pendukung, kemarahan tersebut mencerminkan kelelahan terhadap perubahan yang tidak menghasilkan kestabilan. Keluarga Glazer kembali menjadi sasaran kritik karena masih dikaitkan dengan kerusakan yang dialami klub selama lebih dari dua dekade terakhir, sementara INEOS kini turut diminta membuktikan bahwa keterlibatan mereka benar-benar membawa perbaikan.

Arah Sepak Bola United Kini Dipertanyakan

Pesan utama dari kritik Scholes adalah kebutuhan Manchester United untuk memiliki garis komando yang tegas dan rencana sepak bola yang tidak mudah berubah. Perbedaan pendapat di ruang rapat merupakan hal wajar, tetapi keputusan akhir harus tetap mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap skuad dan identitas permainan.

Memberi Carrick waktu dapat menjadi langkah yang masuk akal jika didukung rencana jelas di balik layar. Namun, United juga harus menjawab keraguan mengenai rekrutmen, peran Wilcox, serta proses yang membuat Ashworth pergi begitu cepat.

Musim ini masih menyisakan tantangan besar bagi Manchester United. Untuk memperbaiki keadaan, klub tidak cukup hanya mencari respons instan dari pemain dan pelatih. Struktur pengambilan keputusan di atas mereka juga harus mampu menunjukkan arah yang lebih konsisten, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

2 thoughts on “Scholes Nilai INEOS Salah Arah Sejak Dan Ashworth Pergi”

Comments are closed.