Ruben Amorim di AC Milan: Deja Vu Tekanan dari Era Manchester United?
Mantan manajer Manchester United, Ruben Amorim, menghadapi awal yang sulit di AC Milan, di mana masalah yang serupa dengan penyebab pemecatannya di Old Trafford mulai terlihat.
reddevilspulse – Mantan manajer Manchester United, Ruben Amorim, dikabarkan menghadapi awal yang sulit bersama AC Milan setelah mengambil alih kursi kepelatihan dari Massimiliano Allegri pada musim panas. Rossoneri, yang kini menduduki peringkat kelima di klasemen Serie A, baru berhasil meraih tiga kemenangan dari enam pertandingan liga pembuka mereka. Walaupun belum terkalahkan di liga, serangkaian tiga hasil imbang telah membuat posisi Amorim mulai disorot, terutama setelah hasil 1-1 kontra Sassuolo yang disebut-sebut menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan petinggi klub.

Kekecewaan Pemilik dan ‘Make Milan Great Again’
Laga imbang 1-1 melawan Sassuolo pekan lalu dilaporkan meninggalkan pemilik AC Milan, Gerry Cardinale, dalam kondisi frustrasi. Gol pembuka dari Adrien Rabiot tak lama setelah satu jam pertandingan, dengan cepat dibalas oleh Sassuolo hanya beberapa menit kemudian, menggagalkan Milan meraih kemenangan. Kabar dari Italia menyebutkan Cardinale meninggalkan Mapei Stadium dengan kekecewaan mendalam, setelah menyaksikan timnya kebobolan gol penyama kedudukan dan gagal menemukan gol kemenangan.
Kekecewaan Cardinale terlihat jelas, bahkan pekan ini ia terlihat mengenakan topi dengan tulisan: ‘Make Milan Great Again’. Ini adalah indikasi kuat bahwa ekspektasi di San Siro sangat tinggi, dan performa awal tim di bawah Amorim belum memenuhi standar tersebut.
Kritik dari Media dan Masalah Identitas Tim
Surat kabar Portugal, A Bola, juga tidak segan melayangkan kritik terhadap penampilan Milan, menggambarkan tim Italia itu sebagai ‘jauh dari meyakinkan’ dan menuding mereka menampilkan permainan yang lesu. Rossoneri dikritik karena kurangnya identitas yang jelas, dengan perubahan konstan pada susunan pemain awal dan pendekatan taktis yang dianggap mengganggu ritme tim. A Bola juga menyoroti risiko yang terus diambil Milan saat bermain menyerang, ditambah dengan minimnya kontribusi serangan dan kurangnya kedalaman skuad.
Situasi ini diperparah dengan cedera Matteo Gabbia yang melemahkan opsi pertahanan mereka. Sementara itu, Francesco Camarda, yang dipandang Amorim sebagai satu-satunya alternatif untuk Goncalo Ramos di lini depan, hanya diberikan lima menit waktu bermain.
Goncalo Ramos dan Julukan ‘Ghostalo’
Penyerang Goncalo Ramos juga tidak luput dari pengamatan ketat pers Italia. Corriere dello Sport memberinya rating 5.5, dengan alasan bahwa ‘satu-satunya peluangnya datang di akhir babak pertama’ sebelum menambahkan bahwa ia ‘tidak terlihat lagi’ di sisa pertandingan. Gazzetta dello Sport bahkan menyarankan bahwa Milan semakin putus asa menantikan penyerang mereka mencetak gol. Surat kabar itu memperingatkan bahwa Ramos, yang kabarnya didatangkan dengan biaya lebih dari €70 juta, berisiko dicap sebagai pembelian yang terlalu mahal.
Baca Juga :
- Kritik Pedas Lisandro Martinez: Manajemen MU Harus Berinvestasi Lebih
- Debut Carlos Baleba Buka Opsi Baru untuk Lini Tengah MU
Para penggemar di media sosial bahkan mulai menjulukinya dengan sebutan ‘Ghostalo’, sebuah plesetan dari nama depannya yang mencerminkan frustrasi mereka terhadap performanya yang seolah menghilang di lapangan.
Tanggapan Amorim dan Persamaan dengan Old Trafford
Berbicara setelah pertandingan, Amorim mengakui masalah yang ada. ‘Kami pantas memimpin, tetapi setelah gol, jelas kami seharusnya mengelola pertandingan dengan lebih baik, mempertahankan lebih banyak penguasaan bola, dan meredam reaksi lawan. Kami tidak boleh kebobolan gol dari sepak pojok. Jelas kami tidak bisa puas ketika kami menyia-nyiakan dua poin seperti itu,’ ujarnya.
‘Terkadang ini masalah mentalitas: Anda mencetak gol dan Anda harus terus menekan, karena jelas lawan ingin mencoba bereaksi, jadi kami seharusnya memiliki lebih banyak penguasaan bola,’ tambahnya.
Pengakuan Amorim ini ironisnya mengingatkan pada masa-masa sulitnya di Old Trafford. Amorim sendiri hanya menghabiskan 14 bulan memimpin Manchester United sebelum dipecat pada awal Januari. Kepergiannya menyusul keretakan hubungannya dengan hierarki klub, termasuk direktur sepak bola Jason Wilcox. Kritiknya secara terbuka terhadap para pemain dan figur senior, komitmen yang kaku terhadap formasi 3-4-3 yang sering dipertanyakan, serta kurangnya kemajuan yang nyata juga diyakini berkontribusi pada pemecatannya.
Melihat kembali masa lalu Amorim di Old Trafford, kritik yang kini dihadapinya di Milan—mulai dari masalah identitas tim, perubahan taktik yang konstan, hingga frustrasi pemilik dan performa pemain—terdengar sangat familiar. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Amorim sedang terjebak dalam siklus yang sama, di mana pendekatan dan gaya kepelatihannya yang pernah dianggap inovatif kini kembali menemui tantangan besar di klub raksasa Eropa lainnya.
Tantangan yang Sama, Panggung yang Berbeda
Bagi para penggemar Manchester United, melihat Amorim menghadapi masalah serupa di Milan bisa jadi memberikan perspektif baru terhadap alasannya dipecat dari Old Trafford. Isu-isu seperti mentalitas tim setelah mencetak gol, kurangnya kedalaman skuad, dan taktik yang kaku adalah gema dari keluhan yang pernah muncul selama kepelatihannya di United.
Kini, di Italia, Amorim harus membuktikan bahwa ia mampu mengatasi tekanan dan menemukan solusi atas masalah yang sama. Jika tidak, bukan tidak mungkin ia akan kembali mengalami nasib yang sama seperti di Manchester United, meninggalkan tanda tanya besar tentang kemampuan adaptasinya di level teratas sepak bola Eropa.

1 thought on “Ruben Amorim di AC Milan: Deja Vu Tekanan dari Era Manchester United?”
Comments are closed.