Penyesalan Abadi Jermain Defoe: Gagal Gabung Man United Meski Diinginkan Fergie

Jermain Defoe mengungkapkan penyesalan terbesarnya sepanjang karier: gagal bergabung dengan Manchester United, meskipun Sir Alex Ferguson dikabarkan sangat menginginkannya.

penyesalan-jermain-defoe-gagal-gabung-man-united-ferguson

reddevilspulse – Meskipun telah menikmati karier yang cemerlang di Liga Primer Inggris, mantan striker tim nasional Inggris, Jermain Defoe, baru-baru ini kembali mengungkapkan salah satu penyesalan terbesarnya: kegagalan untuk bergabung dengan Manchester United. Defoe, yang dikenal dengan insting mencetak golnya yang mematikan, mengungkapkan bahwa ia sempat menjadi target transfer manajer legendaris Sir Alex Ferguson, namun kepindahan itu tidak pernah terwujud karena alasan yang bahkan ia sendiri masih belum sepenuhnya memahami.

Jermain Defoe Manchester United

[gambar-artikel-inline]

Ketertarikan Sir Alex Ferguson yang Tak Terwujud

Kisah tentang ketertarikan Manchester United terhadap Jermain Defoe bukanlah hal baru, namun Defoe baru-baru ini memberikan rincian lebih lanjut yang menambah kedalaman pada narasi ini. Dalam sebuah wawancara di podcast ‘The Warm-Up’ milik William Hill, striker berusia 43 tahun itu menceritakan bagaimana ia sering ditanyai mengapa ia tidak pernah bergabung dengan klub-klub besar seperti Arsenal, Liverpool, Chelsea, atau Manchester United. Yang menarik, ia bahkan baru saja berdiskusi dengan mantan bek kiri Setan Merah, Patrice Evra, yang juga menanyakan hal serupa.

‘Apa yang terjadi ketika kamu seharusnya bergabung dengan kami? Sir Alex Ferguson berbicara tentangmu!’ kenang Defoe mengulang pertanyaan Evra. Evra tampaknya mengonfirmasi bahwa Sir Alex memang menginginkan Defoe di Old Trafford. Ini menunjukkan bahwa ketertarikan tersebut bukan hanya rumor media belaka, tetapi sesuatu yang dibahas di internal klub, bahkan oleh para pemain.

Defoe pertama kali menarik perhatian United saat ia membela West Ham di awal kariernya, sebelum pindah ke Tottenham Hotspur pada tahun 2004. Ketertarikan itu berlanjut saat ia bermain untuk Spurs. Dengan Manchester United yang saat itu menjadi kekuatan dominan di bawah kepemimpinan Sir Alex, membayangkan Defoe dalam skuat mereka tentu memunculkan banyak pertanyaan ‘bagaimana jika’. Sayangnya, peluang emas itu tak pernah menjadi kenyataan, dan hingga kini masih menjadi salah satu penyesalan terbesar Defoe.

Potensi Gol Lebih Banyak di Old Trafford

Defoe percaya diri bahwa jika ia bermain untuk tim yang menciptakan lebih banyak peluang seperti Manchester United, ia pasti akan mencetak lebih banyak gol lagi. Ia selalu merasa bahwa gaya bermainnya akan sangat cocok dengan sistem yang diterapkan di Old Trafford pada masa jayanya. Kemampuan Defoe dalam menyelesaikan peluang, dengan penyelesaian akhir yang klinis, memang akan menjadi aset berharga bagi tim mana pun, apalagi tim yang punya gelandang kreatif melimpah seperti United era Ferguson.

Baca Juga :

Sepanjang kariernya, Defoe mencetak 162 gol di Premier League, menjadikannya pencetak gol terbanyak ke-10 dalam sejarah liga. Namun, berbeda dengan Manchester United di era Ferguson yang sarat trofi, Defoe hanya berhasil meraih satu gelar mayor, yaitu Piala Liga bersama Tottenham pada tahun 2008. Bayangan bermain di bawah bimbingan Sir Alex dan meraih banyak trofi tetap menjadi daya tarik yang tak terbantahkan.

Defoe bahkan mengungkapkan bahwa beberapa mantan pemain klub besar yang ia ajak bicara juga menyatakan keinginan mereka agar ia bergabung. ‘Rasanya membuat frustrasi, karena setiap kali saya berbicara dengan beberapa pemain yang bermain untuk klub-klub besar ini, mereka semua mengatakan bahwa mereka ingin saya datang,’ ujarnya. Selain United, Defoe juga mengklaim sempat mendapat tawaran dari Liverpool sebanyak dua kali, bahkan dengan Steven Gerrard dan Jamie Carragher yang terlibat dalam upaya tersebut saat Kenny Dalglish menjabat sebagai manajer.

Filosofi Kemenangan ala Sir Alex

Defoe selalu memandang Manchester United dan Sir Alex Ferguson sebagai tolok ukur kemenangan. Ia terinspirasi oleh mentalitas pemenang yang ada di Old Trafford. ‘Saya selalu memandang Man United dan melihat para pemain itu, dan semuanya tentang kemenangan. Dan saya selalu berpikir, ‘Saya ingin bermain untuknya [Sir Alex Ferguson]’, ujarnya. Defoe merasa bahwa karakternya sebagai pemain dan pribadi, yang selalu ingin menang dan bekerja keras tanpa mengambil jalan pintas, akan sangat cocok dengan lingkungan di United.

Meskipun ia datang dari akademi West Ham dan merasa bersyukur atas pengembangannya di sana, Defoe mengakui bahwa dalam benaknya, ia selalu berpikir akan berakhir di Manchester United pada suatu saat. Ia mengagumi Harry Redknapp, manajer yang banyak membantunya, tetapi ia melihat Sir Alex sebagai sosok manajer yang paling ingin ia ikuti setelah Redknapp.

Penyesalan Defoe adalah pengingat betapa tipisnya garis antara apa yang terjadi dan apa yang ‘bisa’ terjadi dalam sepak bola. Dengan naluri golnya yang terbukti, kombinasi Jermain Defoe dan Manchester United di bawah Sir Alex Ferguson mungkin bisa menghasilkan lebih banyak momen magis dan trofi untuk Setan Merah, dan mungkin juga melengkapi karier Defoe dengan penghargaan yang lebih besar. Namun, sejarah telah ditulis, dan kisah Defoe di Old Trafford hanya akan tetap menjadi ‘bagaimana jika’ yang abadi.