Asal Usul Julukan Setan Merah: Kenapa Manchester United Disebut Red Devils
Foto: Mtaylor848 / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)
Hampir semua penggemar sepak bola Indonesia mengenal Manchester United dengan sebutan Red Devils. Julukan itu terasa begitu melekat dan ikonik sehingga banyak pendukung, terutama mereka yang baru mengikuti Liga Inggris, menganggapnya sudah ada sejak klub berdiri pada tahun 1878.
Kenyataannya tidak begitu. Julukan legendaris ini baru dipakai secara resmi pada dekade 1960-an. Umurnya jauh lebih muda daripada klubnya sendiri — dan yang paling mengejutkan, asal-usulnya bahkan sama sekali tidak datang dari dunia sepak bola. Bagaimana sebuah tim raksasa menemukan identitas terkuatnya dari luar lapangan hijau?
Jawaban Singkat
Manchester United dijuluki Red Devils karena manajer legendaris mereka, Sir Matt Busby, mengadopsi julukan dari klub rugbi lokal bernama Salford. Pada tahun 1934, klub rugbi tersebut melakukan tur ke Prancis dan tampil luar biasa, sehingga wartawan Prancis menjuluki mereka Les Diables Rouges (Red Devils). Busby memilih meminjam julukan itu untuk memberi identitas baru yang lebih garang bagi klub sepak bolanya setelah trauma mendalam akibat Tragedi Munich.
Sebelum Setan Merah: Sebutan-Sebutan Lama
Sepanjang paruh pertama abad ke-20, Manchester United tidak punya julukan tunggal yang kuat secara komersial maupun emosional. Di masa-masa awalnya saat masih bernama Newton Heath, mereka kadang dipanggil The Heathens. Setelah berganti nama, klub ini lebih sering disebut sederhana saja — United, atau merujuk pada warna seragam kebanggaan mereka, The Reds.
Pada dekade 1950-an, muncul sebutan yang jauh lebih terkenal dan sangat melekat di hati publik Inggris: Busby Babes. Nama itu merujuk pada generasi emas pemain muda binaan akademi di bawah asuhan Sir Matt Busby. Skuad revolusioner ini berhasil menjuarai liga pada musim 1955/56 dan 1956/57 dengan rata-rata usia yang luar biasa muda. Mengandalkan bakat murni seperti Duncan Edwards.
Sebutan itu penuh kehangatan, kebanggaan, dan harapan akan dominasi masa depan. Namun, julukan manis itu juga menjadi masalah psikologis yang berat setelah tanggal 6 Februari 1958.
Titik Balik: Tragedi Munich
Kecelakaan pesawat di bandara Munich usai melakoni laga tandang di kompetisi Eropa merenggut nyawa 23 orang, termasuk delapan pemain inti Manchester United. Insiden ini mengubah sejarah klub selamanya. Julukan Busby Babes yang tadinya membanggakan berubah seketika menjadi pengingat pilu atas kehilangan generasi sepak bola terbaik Inggris.
Busby, yang sendiri selamat dari kecelakaan fatal itu setelah dirawat berbulan-bulan dalam kondisi kritis, bertekad membangun ulang tim dari nol. Dalam proses rekonstruksi ini, ia menyadari timnya membutuhkan identitas baru. Ia menginginkan sesuatu yang tidak terus-menerus mengembalikan ingatan publik dan pemain ke tragedi memilukan tersebut, dan pada saat yang sama, ia butuh identitas yang terdengar lebih menakutkan bagi mental lawan di lapangan.
Dari Lapangan Rugbi, Bukan Sepak Bola
Inspirasinya justru datang dari tetangga di kota yang sama. Salford Red Devils adalah klub rugbi liga profesional yang bermarkas hanya sekitar enam kilometer dari stadion Old Trafford, dan kebetulan mereka juga bermain dengan seragam kebesaran berwarna merah.
Pada tahun 1934, Salford melakukan tur pertandingan ke Prancis dan tampil sangat dominan serta tak kenal ampun. Permainan mereka yang agresif membuat wartawan olahraga setempat menjuluki mereka Les Diables Rouges — yang jika diterjemahkan berarti Setan Merah. Julukan itu terbawa pulang ke Inggris dan melekat kuat pada klub rugbi tersebut sebagai simbol ketangguhan.
Busby sangat menyukai aura dari julukan itu. Terdengar garang, mengintimidasi, mudah diingat, dan yang paling penting: tidak membawa beban emosional masa lalu. Ia mulai memakai sebutan itu untuk timnya sendiri pada awal dekade 1960-an, membangun era baru sepak bola yang lebih agresif.
Dari Ucapan Menjadi Lambang
Busby adalah sosok yang visioner; ia tidak berhenti pada sebutan lisan belaka. Ia memastikan sosok setan memegang trisula mulai muncul di berbagai material promosi, seperti program pertandingan resmi dan syal suporter — dua media yang paling dekat dengan penonton di tribun pada masa itu.
Langkah berikutnya membuat identitas ini permanen. Pada awal dekade 1970-an, figur setan bertrisula itu resmi masuk ke dalam lambang (crest) klub, menempati bagian tengah perisai menggantikan elemen garis-garis lama. Sejak saat itu, julukan tersebut tidak lagi sekadar sebutan informal — ia menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas visual yang dikenakan dengan bangga di dada setiap pemain hingga hari ini.
Kenapa Julukan Ini Bertahan
Dalam dunia branding olahraga, tiga alasan utama membuat Setan Merah bertahan tangguh selama lebih dari setengah abad:
- Cocok dengan warna seragam. Merah sudah menjadi warna primer klub jauh sebelum julukan ini ada. Keduanya menyatu secara natural tanpa terasa dipaksakan oleh departemen pemasaran.
- Mudah diterjemahkan. Frasa Red Devils bekerja sempurna di hampir semua bahasa dunia — termasuk menjadi “Setan Merah” di Indonesia — tanpa kehilangan makna intimidatifnya. Ini sangat membantu kampanye global klub.
- Ada di lambang. Julukan yang hanya hidup di mulut suporter bisa hilang seiring bergantinya generasi; namun, julukan yang tercetak permanen di lambang resmi klub akan abadi.
Setan Merah di Indonesia
Bagi banyak penggemar sepak bola di Indonesia, julukan ini justru menjadi pintu masuk pertama sebelum mereka mengenal taktik, sejarah klasemen, atau bahkan nama pemain bintangnya. Nama yang mudah diucapkan dan punya citra visual kuat membuatnya cepat menyebar di budaya populer, terutama sejak siaran Premier League mulai rutin ditayangkan di stasiun televisi nasional pada era 1990-an.
Menariknya, terjemahan Indonesia ini justru lebih dekat ke makna aslinya dibanding sekadar menyerap kata bahasa Inggrisnya secara mentah. Pemakaian kata “Setan Merah” mempertahankan dua unsur esensial yang dimaksud oleh wartawan Prancis pada tahun 1934 — yaitu warna klub dan kesan menakutkan yang tak tertandingi.
Ringkasan Linimasa
Untuk mempermudah pemahaman sejarah, berikut adalah evolusi identitas klub dari masa ke masa:
| Tahun | Peristiwa |
| 1878 | Klub berdiri sebagai Newton Heath, belum memakai julukan ini. |
| 1934 | Wartawan Prancis menjuluki klub rugbi Salford dengan sebutan Les Diables Rouges. |
| 1950-an | Manchester United dikenal luas di seantero Inggris sebagai Busby Babes. |
| 1958 | Tragedi Munich terjadi; Busby membangun ulang tim dan mulai mencari identitas baru. |
| 1960-an | Busby secara resmi mengadopsi julukan Red Devils ke dalam tim asuhannya. |
| Awal 1970-an | Sosok setan bertrisula akhirnya masuk dan menjadi pusat lambang resmi klub. |
Lambang Klub dan Sosok Setan di Dalamnya
Sejarah lambang Manchester United tidak selalu memuat sosok setan. Bentuk awalnya mengambil banyak unsur dari lambang resmi (coat of arms) Pemerintah Kota Manchester. Elemen paling ikonis adalah gambar kapal layar di bagian atas perisai — sebuah simbol dari Manchester Ship Canal dan denyut nadi perdagangan yang membuat kota industri tersebut tumbuh pesat.
Elemen kapal layar itu bertahan sampai sekarang dan masih bisa dilihat di bagian atas lambang. Yang berubah drastis adalah bagian tengah perisainya. Setelah Busby memperkenalkan julukan Setan Merah pada 1960-an dan secara konsisten memakainya di program pertandingan serta syal suporter. Sosok setan bertrisula itu akhirnya naik kasta ke lambang resmi pada awal 1970-an.
Jadi, urutannya sangat penting untuk diingat: julukannya lahir lebih dulu, barulah lambangnya menyusul. Bukan sebaliknya. Banyak orang awam mengira klub dijuluki Setan Merah karena ada gambar setan di lambangnya, padahal setan itu diilustrasikan dan dimasukkan justru karena julukannya sudah lebih dulu populer di kalangan staf dan penggemar.
Kenapa Busby Butuh Julukan Baru
Ada alasan praktis dan psikologis di balik keputusan manajerial tersebut, jauh di luar sekadar soal menciptakan kesan menakutkan di lapangan.
Sebutan Busby Babes terlalu terikat pada satu generasi pemain tertentu — generasi emas yang sebagian besar karier dan nyawanya terenggut di Munich. Setiap kali sebutan itu dipakai untuk memanggil tim baru, ia tidak lagi terdengar seperti pujian, melainkan menjadi perbandingan yang memberatkan dengan para pemain yang sudah tiada. Beban emosional itu tentu tidak adil bagi pemain-pemain baru, seperti Denis Law atau George Best, yang sedang berusaha membangun kembali fondasi klub.
Julukan baru yang tidak merujuk pada sekelompok orang tertentu memecahkan masalah pelik itu. Red Devils merujuk pada entitas klub itu sendiri, bukan pada satu angkatan pemain. Ia bisa dipakai oleh generasi mana pun—dari era Eric Cantona hingga masa kini—tanpa membangkitkan ingatan yang menyayat hati.
Dibandingkan Julukan Klub Inggris Lain
Bila kita mengamati lanskap sepak bola Inggris, sebagian besar julukan klub lahir dari salah satu dari tiga sumber utama: warna seragam, sejarah kota, atau murni kebetulan belaka.
- Warna seragam — Ini adalah pola yang paling umum, seperti The Blues untuk Chelsea, dan biasanya paling awet karena tidak akan pernah usang selama identitas warnanya tidak berubah.
- Sejarah industri kota — Banyak klub Inggris dinamai dari pekerjaan atau pabrik yang dulu menghidupi wilayahnya. Contoh terbaiknya adalah Arsenal (The Gunners) yang berakar dari pabrik senjata kerajaan, atau West Ham (The Hammers) dari industri besi.
- Kebetulan atau pinjaman — Di sinilah kategori tempat Setan Merah berada, karena julukan ini secara harfiah dipinjam dari klub olahraga lain di kota sebelah.
Yang membuat kasus United sangat tidak biasa dan visioner adalah kenyataan bahwa julukannya dipilih secara sadar oleh manajernya, bukan dibiarkan tumbuh sendiri dari kebiasaan suporter atau pelabelan media. Itu adalah sebuah keputusan yang sangat mendekati praktik kerja pemasaran olahraga (sports marketing) modern, padahal dilakukan jauh pada dekade 1960-an.
Perjalanannya sampai ke Indonesia
Di tanah air, istilah “Setan Merah” mulai lazim wara-wiri di tabloid olahraga cetak dan media televisi Indonesia seiring masuknya gelombang siaran Liga Inggris pada awal 1990-an. Penerjemahannya langsung mengenai sasaran dan tidak kehilangan makna aslinya, sehingga kata-kata itu dengan cepat menempel di benak pemirsa.
Ada efek samping yang menarik dari proses lokalisasi bahasa ini: karena diterjemahkan, julukan ini terasa lebih akrab dan personal bagi pendukung di Indonesia dibanding julukan klub rival yang tetap mempertahankan bahasa Inggris. Sebutan yang bisa diucapkan dengan santai dalam bahasa ibu sendiri tentu lebih mudah masuk ke percakapan sehari-hari di warung kopi, dan faktor sosiologis itu ikut menjelaskan kenapa basis pendukung United di Indonesia bisa tumbuh begitu besar dan fanatik pada periode tersebut.
Kesalahpahaman yang Sering Muncul
Hingga saat ini, masih ada tiga hal mendasar yang paling sering keliru dipahami oleh publik soal asal-usul julukan ikonis ini:
- “Sudah ada sejak klub berdiri.” Ini tidak benar. Klub berdiri pada 1878, sedangkan julukannya baru dipakai sekitar 80 tahun kemudian oleh Sir Matt Busby.
- “Berasal dari dunia sepak bola.” Juga keliru. Asalnya justru dari olahraga rugbi liga, dipinjam lewat klub tetangga, Salford.
- “Diciptakan oleh suporter garis keras.” Salah besar. Julukan ini diadopsi oleh manajernya sendiri, dilakukan secara sengaja demi pemulihan mental dan branding klub.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa Manchester United disebut Setan Merah?
Karena Sir Matt Busby mengadopsi julukan dari klub rugbi lokal, Salford Red Devils, pada dekade 1960-an. Tujuannya adalah untuk memberi identitas baru yang garang bagi klub setelah Tragedi Munich 1958, agar lepas dari bayang-bayang duka masa lalu.
Sejak kapan julukan Setan Merah dipakai?
Digunakan pertama kali sejak dekade 1960-an sebagai sebutan manajerial, dan secara resmi menjadi bagian dari lambang visual klub pada awal 1970-an.
Apa julukan Manchester United sebelumnya?
Sebelum identik dengan Setan Merah, di era awal klub lebih dikenal sebagai The Reds karena seragam mereka, dan kemudian sangat masyhur pada 1950-an sebagai Busby Babes.
Apakah julukan ini berasal dari sepak bola?
Tidak. Asal-usulnya berasal dari olahraga rugbi liga — tepatnya dari klub Salford yang dijuluki Les Diables Rouges oleh para wartawan Prancis saat mereka melakukan tur pertandingan pada tahun 1934.
Untuk Anda yang ingin mendalami lebih jauh transformasi epik tim ini, seluruh perjalanan dari masa Newton Heath hingga menjadi raksasa komersial dunia dibahas lengkap di halaman sejarah Manchester United. Selain itu, bagi para pendukung setia yang ingin terus memantau laju tim kesayangan di kompetisi yang sedang berjalan, Anda bisa mengecek informasi jadwal dan klasemen terbaru, serta melihat siapa saja nama-nama pemain dalam daftar skuad yang membela klub musim ini.
