Scholes dan Butt Sepakat Mourinho Terbaik Usai Era Ferguson
Paul Scholes dan Nicky Butt sepakat menempatkan Jose Mourinho sebagai manajer terbaik Manchester United setelah era Sir Alex Ferguson. Prestasi trofi dan catatan kemenangan menjadi dasar penilaian dua legenda klub itu.
reddevilspulse – Paul Scholes dan Nicky Butt sepakat bahwa Mourinho terbaik MU pada periode setelah Sir Alex Ferguson meninggalkan Old Trafford. Dua mantan gelandang Manchester United itu menilai pencapaian konkret Jose Mourinho, terutama trofi, membuatnya pantas berada di atas para manajer lain dalam era pasca-Ferguson.

Trofi menjadi ukuran utama Mourinho
Bagi Butt, penilaian tersebut tidak memerlukan banyak perdebatan. Ia menempatkan Mourinho di posisi teratas karena fakta mengenai apa yang berhasil dimenangkan pelatih asal Portugal itu bersama Manchester United. “Jose nomor satu, 100 persen, hanya berdasarkan fakta tentang apa yang dia menangkan untuk klub ini,” ujar Butt.
Mourinho menangani United dari 2016 hingga 2018, setelah menggantikan Louis van Gaal. Pada musim pertamanya, ia membawa tim meraih Liga Europa dan Piala Liga. Dua gelar itu menjadi pencapaian penting di tengah fase transisi panjang yang dialami klub setelah pensiunnya Ferguson pada akhir musim 2012-13.
Bagi suporter, argumen Butt cukup mudah dipahami. Sejak Ferguson pergi, United berkali-kali berganti pelatih dan sempat mendekati persaingan papan atas, tetapi periode Mourinho tetap menjadi salah satu fase dengan bukti keberhasilan paling nyata dalam bentuk trofi. Liga Europa juga mempunyai nilai tersendiri karena membuka jalan United kembali ke kompetisi elite Eropa.
Mourinho terbaik MU menurut catatan Scholes
Scholes mendukung penilaian rekannya bukan hanya karena kabinet trofi. Mantan gelandang Inggris tersebut juga menyoroti tingkat kemenangan Mourinho selama bekerja di Old Trafford, yang disebut mencapai 58 persen.
Dalam total 144 pertandingan sebagai manajer Manchester United, Mourinho membukukan 84 kemenangan dan 28 kekalahan. Angka itu menunjukkan bahwa, terlepas dari akhir masa tugasnya yang memburuk pada musim 2018-19, timnya tetap memiliki hasil yang kuat secara keseluruhan.
Penilaian Scholes dan Butt juga menempatkan pencapaian Mourinho dalam konteks yang lebih luas. Mengelola Manchester United setelah Ferguson bukan tugas ringan. Setiap pelatih datang dengan tuntutan untuk mengembalikan standar dominasi di Liga Inggris, sementara klub menghadapi perubahan skuad, ekspektasi besar, dan persaingan yang semakin ketat.
Periode sulit setelah Sir Alex Ferguson
Manchester United belum kembali menjuarai Liga Inggris sejak gelar terakhir bersama Ferguson pada 2012-13. Sejak saat itu, David Moyes, Van Gaal, Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ruben Amorim, hingga Michael Carrick menghadapi tantangan berbeda untuk membawa klub menuju kestabilan.
Baca Juga :
- Harry Redknapp Soroti Tanggung Jawab Skuad Manchester United
- Krisis Loyalitas di Old Trafford: Fans United Kehilangan Minat pada Klub Tercinta
Moyes menjadi pengganti langsung Ferguson, tetapi masa kerjanya tidak berlangsung lama. Van Gaal kemudian menghadirkan pendekatan berbeda sebelum posisinya diambil alih Mourinho. Setelah Mourinho diberhentikan, Solskjaer mula-mula kembali sebagai manajer interim pada 2018, lalu memperoleh jabatan permanen pada 2019.
Solskjaer membawa United meraih salah satu pencapaian liga terbaik pada era pasca-Ferguson ketika finis sebagai runner-up pada 2021. Mourinho juga pernah membawa klub ke posisi kedua Liga Inggris pada 2018. Namun, kedua capaian tersebut belum cukup untuk mengakhiri penantian gelar liga yang terus berjalan.
Karena itu, perdebatan mengenai manajer terbaik setelah Ferguson sering bergantung pada cara pandang yang digunakan. Ada yang memberi bobot lebih besar kepada konsistensi liga, ada pula yang mempertimbangkan perkembangan tim dan atmosfer klub. Namun, Scholes dan Butt memilih ukuran yang paling tegas: gelar serta hasil pertandingan.
Carrick menghadapi tekanan awal yang besar
Pembahasan mengenai para pelatih terdahulu datang ketika Michael Carrick menghadapi situasi sulit sebagai pemegang jabatan saat ini. Legenda United berusia 45 tahun itu menjadi pelatih permanen ketujuh setelah Ferguson pada Mei, menyusul pemecatan Ruben Amorim pada Januari.
Tekanan terhadap Carrick meningkat setelah United hanya meraih satu kemenangan dari delapan pertandingan Liga Inggris. Kekalahan 0-3 dari Bournemouth menjadi kemunduran terbaru dan membuat posisinya mulai berada dalam sorotan.
Situasi tersebut memperlihatkan betapa cepatnya tekanan bekerja di Old Trafford. Carrick memiliki sejarah kuat sebagai mantan pemain dan pernah menjadi bagian penting dari klub, tetapi status legenda tidak otomatis menjamin waktu atau kesabaran ketika hasil tim tidak memenuhi harapan.
Pelajaran dari era Mourinho untuk proyek berikutnya
Penilaian Scholes dan Butt terhadap Mourinho bukan semata nostalgia terhadap seorang pelatih yang pernah membawa pulang trofi. Pandangan itu juga menjadi pengingat bahwa Manchester United perlu menyatukan performa mingguan dengan target akhir yang bisa diukur.
Di bawah Mourinho, United memang tidak berhasil mengembalikan gelar Liga Inggris. Namun, keberhasilan di Liga Europa dan Piala Liga menunjukkan tim mampu menyelesaikan kompetisi dengan gelar ketika memiliki struktur serta fokus yang cukup kuat. Catatan kemenangan 84 kali dari 144 laga turut memperkuat pandangan bahwa periode itu tidak bisa dinilai hanya dari cara berakhirnya.
Bagi Carrick, tantangannya kini jauh lebih mendesak daripada perbandingan antarmanajer. Ia harus menghentikan tren buruk, memperbaiki hasil liga, dan memberi alasan kuat bahwa proyeknya masih pantas diteruskan. Sejarah pasca-Ferguson memperlihatkan bahwa di Manchester United, pencapaian dan konsistensi pada akhirnya akan menjadi penilaian paling menentukan.

1 thought on “Scholes dan Butt Sepakat Mourinho Terbaik Usai Era Ferguson”
Comments are closed.