Prediksi Roy Keane Terbukti? Nasib Empat Pemain Manchester United

Roy Keane pernah mengkritik empat pemain Manchester United yang dinilainya tidak cukup baik, kini tiga di antaranya telah dilepas dan satu lagi menghadapi ketidakpastian transfer.

prediksi-roy-keane-empat-pemain-man-united

reddevilspulse – Kritik pedas yang dilontarkan legenda Manchester United, Roy Keane, seringkali menjadi sorotan tajam. Beberapa tahun lalu, Keane secara terang-terangan menyatakan bahwa empat pemain tertentu tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membawa Manchester United kembali ke puncak persaingan. Kini, seiring berjalannya waktu dan pergerakan bursa transfer, tiga dari empat pemain yang ia sebutkan telah meninggalkan Old Trafford. Hanya satu nama yang masih berada di klub, namun masa depannya pun sedang menggantung jelang penutupan jendela transfer 1 September mendatang.

prediksi roy keane

_artikel]

Awal Mula Kritik Pedas Keane: Fred dan McTominay

Kembali pada Agustus 2022, Keane tidak menahan diri dalam mengutarakan kekecewaannya. Setelah kekalahan 2-1 Manchester United dari Brighton di Premier League, ia menunjuk langsung Fred dan Scott McTominay sebagai biang keladi. Kedua gelandang tersebut ditugaskan oleh manajer Erik ten Hag untuk menjadi jangkar di lini tengah, namun performa mereka jauh dari harapan Keane.

Melalui siaran Sky Sports, Keane mengungkapkan penilaiannya yang brutal: “Pengambilan keputusan dan kecerdasan dalam bermain, khususnya dari Fred – dan saya sudah mengatakan ini sejak lama – Fred dan McTominay tidak cukup baik. Mereka tidak akan membawa Manchester United kembali bersaing di level teratas. Kita melihatnya minggu demi minggu. Mereka tidak mampu.” Komentar ini mencerminkan pandangan banyak penggemar United yang mendambakan lini tengah yang lebih dominan dan kreatif.

Jejak Karier Pasca-Old Trafford: McTominay yang Bersinar

Ironisnya, karier Scott McTominay menunjukkan peningkatan signifikan setelah ia meninggalkan Manchester United. Setelah bergabung dengan klub sejak usia lima tahun, gelandang Skotlandia berusia 29 tahun itu akhirnya hengkang ke Napoli pada musim panas 2024 dengan nilai transfer 25 juta poundsterling. Musim debutnya di Serie A bersama tim asuhan Antonio Conte adalah sebuah kejutan besar.

McTominay tidak hanya beradaptasi dengan cepat, tetapi juga berhasil meraih penghargaan Pemain Terbaik Serie A di musim perdananya. Ia berperan kunci dalam membantu Napoli meraih gelar juara Liga Italia. Musim berikutnya, meskipun Napoli finis kedua di belakang Inter Milan, mereka berhasil mengamankan gelar Supercoppa Italiana, menambah koleksi trofi McTominay. Perkembangan ini seolah menjadi antitesis dari kritik Keane, setidaknya di luar Old Trafford.

Fred Menemukan Konsistensi di Turki

Sementara itu, mantan rekan duet McTominay di lini tengah United, Fred, juga menemukan pijakan baru dalam kariernya. Gelandang internasional Brasil berusia 33 tahun itu direkrut Manchester United dari Shakhtar Donetsk pada 2018 dengan biaya 47 juta poundsterling. Selama waktunya di United, Fred sempat membantu klub memenangkan Piala Liga pada 2023. Ia menjadi pemain reguler hingga kepindahannya ke Fenerbahce pada Agustus 2023, setahun setelah kritik pedas Keane.

Di klub raksasa Turki tersebut, Fred dengan cepat menjadi andalan. Ia telah menjadi pemain yang konstan dan pilar di lini tengah Fenerbahce selama tiga musim terakhir. Konsistensinya berbuah manis dengan raihan gelar Turkish Super Cup pada tahun 2025. Bagi Fred, kepindahan ini memberinya kesempatan untuk bermain secara reguler dan kembali menemukan performa terbaiknya jauh dari tekanan Old Trafford yang intens.

Baca Juga :

Hojlund yang Berjuang dan Mencari Jati Diri

Kritik Keane tidak berhenti pada Fred dan McTominay. Pada April 2025, setelah Manchester United ditahan imbang tanpa gol oleh Manchester City di bawah asuhan mantan pelatih Ruben Amorim, Keane kembali melancarkan kritik. Kali ini, sasarannya adalah Joshua Zirkzee dan penyerang Denmark, Rasmus Hojlund.

“Manchester United masih bisa lebih mengancam gawang lawan,” kata Keane di Sky Sports. “Dua striker yang dimiliki United saat ini tidak cukup bagus untuk United, tetapi ada pemain lain di tim. Saya tidak mengatakan mereka semua harus seperti itu – tetapi ada pemain berpengalaman di sana. Maguire, Casemiro, Fernandes – apakah mereka bisa mengendalikan para pemain ini?”

Rasmus Hojlund, yang bergabung dengan United dari Atalanta pada Juli 2023 dengan biaya awal 64 juta poundsterling, memang mengalami masa sulit di Old Trafford. Ia mencetak 26 gol dalam 95 penampilan, angka yang kurang memuaskan bagi seorang striker utama. Namun, ia sempat memenangkan Piala FA bersama United pada 2024. Hojlund kemudian dipinjamkan ke Napoli pada September 2025, sebelum kepindahannya dipermanenkan pada musim panas ini dengan biaya sekitar 38 juta poundsterling. Di Italia, ia mencetak 16 gol di musim debutnya dan memenangkan Supercoppa Italiana, namun ia dilaporkan kesulitan membuat dampak di pramusim bersama Napoli musim panas ini.

Joshua Zirkzee: Masa Depan yang Menggantung

Dari daftar hitam Keane, Joshua Zirkzee adalah satu-satunya yang masih berada di Manchester United, meskipun situasinya tidak pasti. Zirkzee bergabung dengan United pada tahun 2024 dengan biaya 36,5 juta poundsterling. Namun, sejak kedatangannya, ia berjuang untuk mengamankan tempatnya di tim utama, hanya mencetak sembilan gol dalam 75 penampilan di semua kompetisi.

Menurut laporan, Juventus sangat tertarik untuk mendapatkan striker berusia 25 tahun itu dengan status pinjaman selama satu musim penuh. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Zirkzee telah memberikan lampu hijau untuk kepindahan ke raksasa Serie A tersebut. Keputusan ini kemungkinan besar didorong oleh ketatnya persaingan di lini serang United, dengan pemain seperti Benjamin Sesko, Matheus Cunha, dan Bryan Mbeumo seringkali mendapatkan menit bermain lebih banyak darinya, membatasi kesempatan Zirkzee untuk unjuk gigi.

Refleksi dari Pedasnya Lidah Keane

Kisah empat pemain ini – McTominay, Fred, Hojlund, dan Zirkzee – memberikan gambaran menarik tentang tantangan di Manchester United dan ketajaman (atau kadang kejamnya) prediksi Roy Keane. Meskipun beberapa dari mereka menemukan kesuksesan setelah meninggalkan Old Trafford, performa mereka saat mengenakan seragam merah memang sering kali di bawah ekspektasi. Keane mungkin tidak selalu benar tentang potensi jangka panjang seorang pemain, tetapi penilaiannya terhadap performa mereka saat berada di United seringkali tepat sasaran.

Kini, dengan hanya Zirkzee yang tersisa dan berada di ambang pintu keluar, Manchester United sekali lagi dihadapkan pada tugas untuk membangun kembali lini serang dan tengah mereka. Apakah kritik Keane menjadi katalisator bagi perubahan atau sekadar pandangan seorang legenda yang tidak puas, yang jelas, jejak karier keempat pemain ini telah memberikan banyak pelajaran bagi strategi transfer dan pengembangan skuad Manchester United di masa mendatang.